Hantaran Majlis Mudzakarah

أَحْمَدُكَ يَامَنْ زَيَّنَ الدِّيْن حَمْدًا لَا تُعَد
وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَد خَيْرِ الْعبَاد

Ini adalah catatan kenangan. Penelusuran kecil jejak sukacita khidmat pada Sang Kekasih Allah di tanah barakah al-Abrar. Catatan untuk menyusun kembali (al-’îjâd) kenikmatan barakah dan keagungan cinta Sang Maha Guru kepada murid-murid-nya. Kecintaan yang ditakarnya dalam jaminan yang lugas tegas: Wathanî, rûhi fidâ’u [bangsaku, nyawaku taruhan], laki min kullidlalali. [bagimu, tukterhindar dari kesesatan]

.
Nyawangku jari taro’ane
[taruhannya nyawaku]
Alur aku sengsare sok ndeq ante
[biar aku sengsara, asal jangan kamu]

Majlis itu bernama ’Majlis Al-Aufiya’ wa Al-Uqala’, majlis yang menempatkan dua kata magis yakni aufiyâ’ dan ‘uqalâ’ itu sebagai doa dan spirit yang tiada akhir. Majlis yang meneguhkan pengalaman belajar: pengalaman menyimak, menyaksikan, menelaah, dan merasakan. Majlis yang ingin belajar dari “mengalami” agar lurus dan benarlah aqidah “mengilmukan” pengalamanpengalaman itu. Hasil mudzakarah itu diniatkan agar pengalaman itu bukan sekadar menjadi pengetahuan, bukan semata pengilmuan namun dihajatkan dapat menguatkan amaliyah tuntunan sehingga berbuah pengamalan yang tercurah kebaikannya, khairan katsîran.

Misi mudzakarah ini adalah: meneguhkan pengalaman (alamiah), menguatkan upaya pengilmuan (ilmiah), dan memantapkan pengamalan (amaliah).Dimensi dasarnya pengalaman, dikuatkan dengan pengilmuan dan hasilnya adalah kekuatan pengamalan. Spiritnya min abarril birri an yasilarrajulu wudda abîhi. ‘Sejatinya kebajikan adalah memelihara kecintaan orang tua, dalam konteks ini orang tua utama (guru)’. Tujuan mudzakarah ini adalah penguatan Ke-NW-an (capacity building), kebaikan, kebajikan, dan kebijakan nahdliyyin dan muhibbîn.

Catatan ini adalah versi kitabah kitâbiyah (kumpulan tulisan) dari catatan suhûfiyah usbû’iyah (catatan mingguan). Mudzakarah ini bersifat maudlû’iyyah (tematik) dan juga bersifat kitâbiyah (kajian teks) dengan membongkar kembali kutubul-muqarrât (kitab sesuai kurikulum) atau kitab yang dikaji di majlis al-Abrar (MDQH) di zaman hayat Maulana. Mudzakarah ini menepis alfa (sebelum terlanjur merawat lupa) bahwa:

kita sibuk dengan berbagai profesi
karena pernah belajar di NWDI,
mengapa kita tidak sempatkan diri
untuk berbicara tentang ‘rumah sendiri’
untuk sempat dan menyempatkan diri
pulang dan merawat, NW-lah rumahmu sendiri.

Maulana Syaikh TGKH Zainuddin Abdul Majid adalah tema sentral dalam kajian mudzakarah Reboan. Mudzakarah Majlis al-Aufiya wal Uqala’ bermula malam Rabu 20 Rabiul Akhir 1436 H, bertepatan dengan 11 Pebruari 2015. Sajian dibagi tiga yakni (1) attaqdîm, (2) attahrîr, dan (3) attabsyîr; pemaparan, pendalaman, dan lesson learned (intisari).

Mudzakarah ini adalah majlis Ma’had DQH, setiap senja menjelang petang di dua purnama itu menilik mahabbah keluarga Maulana kepadanya, juga mahabbah muridnya kepada warasatul-anbiya itu. Diskusi itu mengalir saja laksana air, meresap dalam harap jika mutiara-mutiara hikmah itu didapat dalam khidmat. Mudzakarah yang jauh dari tendensi teks, diskusi yang mengarah pada pengalaman para murid Maulana,alamiyah saja. Misinya ingin benar-benar menyampaikan yang alamiah, yang didengar, yang disaksikan yang dialami atau yang diceritakan.Maraji’ atau narasumber mudzakarah ini adalah murid madrasah. Mereka adalah alumni Ma’had Darul Quran wal-Hadits (MDQH) angkatan 20-an, 30-an, 40-
an. Moga manfaat dunia akhirat. Amin.

Dikutip dari buku : Menyusuri Keagungan Cinta Maulana disini